Kisah Nabi Hud AS Dan Kaum ‘Aad
Kaum
‘Aad merupakan bangsa Arab yang menempati Al-Ahqaf yaitu bukit-bukit pasir.
Tempat itu terletak di Yaman dari Amman dan Hadhramaut di sebuah tempat yang
dekat dengan laut, disebut juga Asy-Syahr. Nama lembahnya adalah Mughits, kaum
‘Aad lebih banyak tinggal di perkemahan yang memiliki pasak tiang-tiang yang
besar dan tinggi sebagaimana firman Allah Ta’ala :
Apakah
kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad? (yaitu)
penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. [QS Al-Fajr : 6-7]
Nabi Hud ‘Alaihissalam Diutus Allah kepada Kaum ‘Aad
Kaum
‘Aad adalah kaum yang durhaka kepada Allah Ta’ala dengan menjadi kaum yang
pertama kali menyembah berhala setelah peristiwa banjir besar dan luluh lantaknya
umat manusia yang kafir. Berhala mereka ada tiga yaitu Shad, Shamuda, Hara.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala utus saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam untuk
mengembalikan mereka kepada aqidah tauhid yang bersih dari syirik. Allah Ta’ala
berfirman :
Dan (Kami
telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa
kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” [QS Al-A’raaf : 65].
Mereka
adalah bangsa Arab yang keras tabiat, kafir, angkuh dan menyembah berhala.
Kemudian Nabi Hud menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah Azza wa Jalla,
mengesakanNya dengan melaksanakan ibadah secara ikhlas kepadaNya, namun mereka
mendustakan beliau, menentangnya dan mengejeknya. Allah Ta’ala berfirman :
Pemuka-pemuka
yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu
dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk
orang-orang yang berdusta”. [QS Al-A’raaf : 66]. Maksudnya adalah perkara yang
beliau serukan kepada kaumnya untuk diikuti adalah sebuah kedustaan terhadap
kegiatan penyembahan berhala yang telah berlangsung ini yang mana kaum yang
durhaka tersebut mengharapkan kemenangan, rizki hanya dari berhala-berhala
tersebut.
Nabi
Hud berkata, seperti difirmankan Allah Ta’ala :
Hud
berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku
ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanah
Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu”. [QS
Al-A’raaf : 67-68]. Maksudnya adalah perkara ini bukan kedustaan seperti yang
dikira kaumnya beliau. Nabi Hud telah berusaha menyampaikan dengan bahasa yang
lugas, fasih dan sederhana. Ini merupakan berkah dan nasehat bagi kaumnya dan kasih
sayang beliau kepada mereka serta beliau sangat ingin kaumnya menuju jalan
hidayah. Beliau tidak pernah meminta upah atau balasan tetapi beliau
melaksanakan dakwahnya dengan penuh keikhlasan demi mencari ridha Allah.
Kaum ‘Aad Meminta Disegerakan Adzab
Akhirnya
apa yang terjadi pada kaum Nuh pun berulang pada kaum ‘Aad, mereka meminta
disegerakan adzab karena mereka mendustakan bahwa Nabi Hud adalah utusan Allah,
mereka tidak mempercayai bahwa adzab itu adalah haq karena mereka tidak beriman
kepada Allah. Mereka menyangka Nabi Hud adalah seorang pendusta padahal
sebaliknya, merekalah yang pendusta. Mereka berkata, seperti difirmankan Allah
:
Mereka
berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja
dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka
datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang
yang benar”. [QS Al-A’raaf : 70]
Mereka
juga berkata :
Mereka
menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak
memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang
dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan di “azab”. [QS Asy-Syu’ara : 136-138]
Nabi
Hud sedih mendengar perkataan kaumnya yang bodoh. Nabi Hud berdo’a kepada Allah
:
“Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka
mendustakanku.” Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan
menjadi orang-orang yang menyesal.” Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang
mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka
kebinasaanlah bagi orang-orang yang lalim itu. [QS Al-Mu’minuun : 39-41]
Ibnu
Katsir berkata, Para ahli tafsir menyebutkan bahwa ketika kaum ‘Aad meminta
disegerakan adzab, Allah Ta’ala memulai dengan menahan hujan selama 3 tahun,
kemudian mereka meminta jalan keluar kepada Allah di Bait dan Haram mereka yang
mana tempat itu terkenal di kalangan penduduk zaman itu. Di dalamnya terdapat
bangsa Amaliq keturunan dari Imlaq bin Lawadz bin Sam bin Nuh, pemimpin mereka
kala itu adalah Mu’awiyyah bin Bakr, ibunya berasal dari kaum ‘Aad, namanya
Jalhadah binti Al-Khaibari. Kaum ‘Aad mengutus delegasi berjumlah sekitar 70
orang untuk mengambil air. Kemudian mereka melewati Mu’awiyyah di daerah
Makkah, lalu mereka singgah selama sebulan di tempatnya untuk meminum khamr dan
memberikannya pada Mu’awiyyah.
Setelah
selesai mengunjungi Mu’awiyyah, maka mereka segera beranjak ke Al-Haram dan
berdoa untuk kaumnya. Kemudian salah seorang pemuka agama yang bernama Qail bin
Anaz berdo’a untuk mereka. Maka Allah mengirimkan 3 awan yaitu putih, merah,
hitam kemudian mereka diseru dari langit, “Pilihlah untukmu dan kaummu dari
awan ini. Qail menjawab, “Aku memilih yang berwarna hitam.” Qail menyangka
bahwa awan hitam adalah awan yang membawa hujan untuk mereka.
Kemudian
Allah mengirimkan awan hitam yang telah dipilih Qail kepada kaum ‘Aad, hingga
awan itu keluar di sebuah lembah yang dinamakan Al-Mughits. Penduduk kaum ‘Aad
melihatnya dan mereka bergembira ria, mereka berkata, “Inilah hujan untuk
kami!”. Allah Ta’ala berfirman :
Maka
tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah
mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada
kami”. (Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera
(yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala
sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan
lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi
balasan kepada kaum yang berdosa. [QS Al-Ahqaf : 24-25]
Orang
pertama dari kaum ‘Aad yang melihat kalau awan itu adalah angin yang
menghancurkan adalah seorang wanita bernama Mahd. Ketika dia melihatnya, dia
pun berteriak dan jatuh pingsan. Ketika siuman, kaumnya bertanya padanya, “Apa
yang kau lihat wahai Mahd?” Dia menjawab, “Aku melihat awan hitam bagai meteor
dari neraka, di depannya ada seorang lelaki yang menuntunnya!”
Lalu
Allah Ta’ala menggerakkan awan hitam tersebut 7 hari berturut-turut mengepung
mereka. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup di dalam desa kaum ‘Aad,
sementara Nabiyullah Hud ‘Alaihissalam dan orang-orang yang telah beriman
terlebih dahulu sudah pergi dari kaumnya, mengasingkan diri dan menghindar dari
adzab dan siksa Allah yang pedih.
Kisah
serupa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya [no. 15524 dengan sanad
hasan] dari hadits Al-Harits bin Yazid Al-Bakri mengenai seorang wanita tua
dari Bani Tamim.
Ibnu
Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas serta lebih dari satu imam para tabi’in berkata, Angin
tersebut dingin dan sangat kencang. [Jami’ul Bayan Ath-Thabari 24/102]
Firman
Allah Ta’ala :
Adapun
kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat
kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan
delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati
bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong
(lapuk). [QS Al-Haqqah : 6-7].
Allah
menyerupakan kaum itu dengan tunggul pohon kurma yang tidak memiliki kepala
karena angin waktu itu mendatangi mereka dan mengangkat mereka ke atas dengan
kencangnya lalu memutar kepala-kepala mereka hingga putus dan yang tersisa
hanya jasad tanpa kepala. Beberapa dari mereka ada yang mengungsi ke gua-gua
dan gunung-gunung karena rumah-rumah mereka telah hancur. Kemudian Allah
mengutus angin Al-Aqim, yaitu angin panas yang disertai nyala api di
belakangnya. Kaum ‘Aad yang tersisa menyangka angin inilah yang akan
menyelamatkan mereka. Padahal angin ini justru mengumpulkan mereka semua dalam
pusaran hawa dingin dan panas yang sangat membinasakan. Inilah adzab angin
terdahsyat dalam sejarah yang pernah terjadi di muka bumi disertai dengan
teriakan-teriakan yang amat memilukan dari kaum ‘Aad. Inilah adzab yang mereka
meminta-minta untuk disegerakan kedatangannya. Na’udzubillahi min dzaalik.
Riwayat
menyebutkan bahwa Nabi Hud dimakamkan di negeri Yaman, ini dari riwayat ‘Ali
bin Abi Thalib. Riwayat lain menyebutkan kuburannya berada di Damaskus, di
masjidnya terdapat tempat yang banyak dikira orang-orang bahwa itu merupakan
makam Nabi Hud ‘Alahissalam. Allahu a’lamu bishawab.
Sumber : Al-Bidayah wa
An-Nihayah
Karya : Al-Hafizh Abul
Fida’ Ibnu Katsir
Tahqiq : Syaikh Dr.
‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At-Turki

Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan di “azab”. [QS Asy-Syu’ara : 136-138]
ReplyDeletemasyaallah ini cerita...
ReplyDelete