Wednesday, September 26, 2018

KISAH KHOLIFAH ALI BIN ABI THALIB R.A lengkap


ALI BIN ABI THALIB
KISAH KHOLIFAH ALI BIN ABI THALLIB

Ali bin Abi Thalib adalah Khalifah rasyid yang keempat. Keutamaan dan keistimewaannya adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi kecuali orang-orang Khawarij ( Ibnu Muljam dan komplotannya) yang lancang memerangi bahkan menumpahkan darahnya.
Berbeda dengan tiga Khalifah sebelumnya, dimana sebagian orang terjebak dalam kesalahan dengan merendahkan kedudukan mereka, Ali bin Abi Thalib sebaliknya, orang-orang terjebak dalam kekeliruhan, penyimpangan dan kesesatan bahkan kekufuran karena berlebih-lebihan dalam mengagungkannya. Sebagaimana Abdullah bin Saba dan orang-orang yang mengikutinya.
Suwaid bin Ghafalah datang menemui Ali radhiAllahu’anhu di masa kepemimpinannya. Lalu Suwaid berkata, ‘’Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Di antara mereka adalah Abdullah bin Saba dan dialah orang pertama yang mengampanyekan hal tersebut. Ali menjawab,’’Aku berlindung kepada Allah menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan’’ kemudian beliau mengirim utusan kepada Abdullah bin Saba dan mengusirnya ke al-Madain. Ia juga berkata,’’Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya’’. Kemudian ia berdiri menuju mimbar dan orang-orang pun berkumpul... ...Ali berkata,’’Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorang pun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencabuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta.’’
Ali bin Abi Thalib mengatakan,’’Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu menghalangi dapat seseorang dari kebenaran dan panjangan angan-angan dapat membuat lupa akhirat.’’
Nasabnya
Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthlib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Galib bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah. Rasulullah memberinya kun-yah Abu Turab. Ia adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Ibunya bermana Fathimah binti Asad bin Hasyam bin Qushay bin kilab. Ali memiliki beberapa orang saudara laki-laki yang lebih tua darinya, mereka adalah: Thalib, Aqil, dan ja’far. Dan dua orang saudara perempuan; Ummu Hani’ dan Jumanah.
Ayahnya, Abu Thalib yang nama aslinya adalah Abdu Manaf. Abu Thalib adalah paman kandung Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang sangat menyayangi Nabi, namun ia wafat dalam agama jahiliyah.
Sifat Fisiknya
Ali bin Abi Thalib adalah laki-laki berkulit sawo matang, bola mata beliau besar dan agak kemerah-merahan. Untuk ukuran orang arab, beliau termasuk pendek, tidak tinggi dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundaknya putih. Rambut di dada dan pundaknya cukup lebat, berwajah tampan, memiliki gigi yang rapi, dan ringan langkahnya (ath-Thabaqat al-kubra, 3:25)
Keutamaan Ali bin Abi Thalib
Termasuk Seseorang yang Dijamin Surga
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,’’Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.’’ (HE. At-Tirmizi dan dishahihkan oleh Syaikh Albani).
Rasulullah mengumumkan di Khalayak Bahwa Allah dan Rasul-Nya Mencintai Ali
Saat perang Khabar, Rasulullah hendak memberinya bendera komando perang kepada seseorang Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’adi, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
‘’Demi Allah, akan aku serahkan bendera ini eso hari kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui dirinya.’’ Maka semalem suntuk orang-orang (para sahabat) membicarakan tentang siapakah di antara mereka yang akan diberikan bendera tersebut. Keesokan harinya, para sahabat mendatangi Rasulullah, lalu beliau bersabda,’’Dimanakah Ali bin Abi Thalib?’’ Dijawab,’’kedua matanya sedang sakit.’’ Rasulullah memerintahkan,’’panggil dan bawa dia kemari.’’ Dibawalah Ali ke hadapan Rasulullah, lalu beliau meludahi kedua matanya yang sakit seraya berdoa untuknya.
Seketika Ali sembuh total seolah-olah tidak tertimpah sakit sebelumnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan bendera kepadanya. Lalu Ali berkata, ‘’Wahai Rasulullah, aku memerangi mereka sampai merekaa menjadi seperti kita.’’ Rasulullah bersabda,’’Majulah dengan tenang, sampai engkau tiba di tempat mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberi pemberi petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh lebih berharga bagimu dari pada memiliki unta-unta merah.’’ (HR. Muslim no. 4205).
Kedudukan Ali di Sisi Rasulullah
Ibrahim bin Saad bin Abi Waqqash meriwayatkan dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada Ali,’’Apakah engkau tidak ridho kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa.’’ (Muttafaq ‘alaihi).
Hadits ini Rasulullah sampaikan kepada Ali saat beliau tidak menyertakan Ali bin Abi Thalib dalam pasukan perang Tabuk. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan agar menjadi wakil beliau di kota Madinah. Ali yang merasa tidak nyaman hanya tinggal bersama wanita, anak-anak, dan orang tua yang udzur tidak ikut perang dihibur Rasulullah dengan sabda beliau di atas.
Sa’ad bin Waqqash radhiallahu’anhu membawakan hadits semisal dalam ash-Shahihain:
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata,’’Rasulullah shallallahu’alai wa sallam pernah memberi tugas Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’ Maka beliau menjawab, Tidaklah engkau rela mendapat kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja ada Nabi setalahku ?’’ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4416 dan Muslim no. 2404).
Hadits ini dipakai orang-orang yang berlebihan dalamm mengagungkan Ali bin Abi Thalib sebagai legitimasi bahwa Ali lebih mulia dari Abu Bakar dan Umar. Padahal hadits ini adalah pembelaan Rasulullah terhadap Ali yang dituduh oleh orang-orang munafik bahwa dia merasa berat untuk berangkat perang. Ali berkata,’’Wahai Rasulullah, orang-orang munafik mengatakan bahwa engkau menugaskan aku karena engkau memandang aku berat untuk berangkat jihad dan kemudian memberi keringanan’’.
Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,’’Mereka telah berdusta! Kembalilah, aku menugaskanmu untuk mengurus keluargaku dan keluargamu. Tidaklah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku?’’. Maka Ali pun akhirnya kembali ke Madinah (Taariikhul-Islam, 1 : 232).
Ayah Dari Pemimpin pemuda Surga
Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu adalah ayah dari dua orang cucu kesayangan Rasulullah shallallahu’alai wa sallam, yakni Hasan dan Husein. Kedua cucu beliau ini adalah pemimpin para pemuda di surga.
Rasulullah bersabda,
‘’al-Hasan dan al-Husein adalah pemimpin pemuda ahli Surga.’’ (HR. At-tirmizi, no. 3781)
Penutup
Ali biin Abi Thalib mengatakan,
‘’Demi dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.’’ (HR. Muslim, no. 249)
Tentu saja, mencintai Ali bukan hanya klaim semata. Mencintainya adalah dengan mengikuti perintahnya, tidak melebih-lebihannya dari yang semestinya, dan mencintai orang-orang yang ia cintai. Ali mengutamakan Abu Bakar dan Umar atas dirinya, demikian juga semestinya orang-orang yang mengaku mencintainya, mengikuti keyakinannya.
Terima kasih...

1 comment:

  1. ‘’al-Hasan dan al-Husein adalah pemimpin pemuda ahli Surga.’’ (HR. At-tirmizi, no. 3781)

    ReplyDelete